Pasca Blok Cepu "Membara"
Komisi VII: Intelijen "Kecolongan" Saat Rusuh Blok Cepu
Rabu, 05 Agustus 2015 16:00:25
Reporter: Dita Afuzal Ulya/Muhammad A. Qohhar
blokBojonegoro.com - Kejadian
kerusuhan di proyek Engineering, Procurement and Constructions (EPC)
Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, tidak bisa dianggap enteng. Bahkan
dinilai kecil. Sebab, ini aset negara dan wilayah bahaya. Hal itu
disampaikan Wakil Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia (DPRRI), Satya W. Yudha.
Kepada blokBojonegoro.com, Rabu (5/8/2015) menjelaskan, jika pengamanan
di Blok Cepu harus dibenahi dan tidak bisa biasa-biasa. Sebab, bisa
dibilang kejadian Sabtu (1/8/2015) lalu, diduga intelijen kecolongan
karena tidak masuk di wilayah dalam proyek EMCL.
"Makanya sistem pengamanan harus dirubah di objek vital nasional. Tidak bisa biasa-biasa EMCL menerapkannya," sambungnya.
Politisi asal Partai Golkar tersebut menerangkan, jika masalah
pengamanan di objek vital bisa langsung dikoordinasikan dengan panglima.
Bahkan, selama 24 jam, bisa langsung dikerahkan TNI AD, AL atau Udara.
Sebab, perhatian khusus telah dilakukan dan tidak bisa main-main.
"Kita beri dukungan penuh kepada aparat kepolisian yang menyelidiki
kasus kerusuhan di Blok Cepu. Termasuk jika harus ada tersangka, biar
ada efek jera," terang anggota dewan yang terpilih dari Dapil IX
(Bojonegroo-Tuban).
Ditegaskan, jika kejadian kemarin bisa sangat berbahaya kalau pekerja
mengetahui teknis operasi dan merusak pipa utama Migas di Blok Cepu.
Sekecil apapun percikan api bisa berbahaya untuk operasi. Jadi, kepada
pihak terkait jangan pernahhh mengerdilkan kerusuhan kemarin.
"Bahkan harus disosialisasikan kalau membuat rusuh di Objekvitnas bisa
dikategorikan "Makar". Itu harus dicatat dan disosialisasikan kepada
pekerja dan masyarakat di sekitar operasi Migas," jelas SW. Yudha,
panggilan akrabnya. [ita/mad]


